Tribun Tanpa Asap, Harapan Masyarakat Sipil Terhadap Presiden Indonesia Terpilih dan PSSI di HTTS 2019

Selasa, 28 Mei 2019, No Tobacco Community mengikuti Konferensi Pers Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diselenggarakan oleh Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau. Konferensi pers ini bertemakan, “Harapan Masyarakat Sipil Terhadap Presiden Indonesia Terpilih dan PSSI.”

Konferensi pers ini juga dihadiri oleh Ifdhal Kasim (Koordinator Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau), Sudibyo Markus (Koordinator Program Nasional Indonesia Institute for Social Development), dan Hafizh Syafa’aturrahman (Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah), Ferry Indrasjarief (Ketua Umum The Jakmania / Inisiator Gerakan Tribun Tanpa Asap) dan Andritany Ardhiyasa (Kapten Timnas Sepakbola Senior dan Persija Jakarta).

“Indonesia sudah menjadi negara dengan perokok termuda tertinggi di dunia. Hal yang lebih memprihatinkan adalah angka prevalensi perokok pemula diperkirakan akan terus meningkat. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018, angka prevalensi perokok pemula, yaitu usia 10 tahun hingga 18 tahun, telah mencapai angka 9.1 persen. Karena itu, bila KPU menetapkan Joko Widodo sebagai presiden kembali untuk lima tahun mendatang, Ikatan Pemuda Muhammadiyah menunggu upaya konkret untuk mengatasi angka prevalensi perokok pemula yang tinggi itu,” kata Hafizh Syafa’aturrahman.

Tribun Tanpa Asap, Harapan Masyarakat Sipil Terhadap Presiden Indonesia Terpilih dan PSSI di HTTS 2019
Tribun Tanpa Asap, Harapan Masyarakat Sipil Terhadap Presiden Indonesia Terpilih dan PSSI di HTTS 2019

Konferensi pers ini bertujuan untuk memperluas gerakan pengendalian tembakau di Indonesia. Lebih spesifik, acara ini juga membahas keterkaitan penggunaan rokok dengan olahraga, khususnya sepak bola. Terciptanya stadion bebas asap rokok dan asap cerawat (flare) melalui Gerakan Tribun Tanpa Asap pun jadi salah satu tujuan utamanya.

“Kalau kita lihat seperti di Eropa, banyak sekarang anak-anak kecil atau balita itu bisa datang ke stadion tanpa menghirup asap, baik asap rokok maupun asap flare. Untuk para suporter yang masih merokok di dalam stadion, coba stop. Karena hanya 90 menit Anda tidak memegang batang rokok, dan stadion bukan hanya milik Anda tapi juga milik orang-orang yang ingin menikmati sepak bola,” ujar Andritany Ardhiyasa.

“Football for All, jadi semua berhak untuk datang ke stadion tanpa merasa terganggu oleh asap. Anak kecil dan balita kan juga banyak yang datang ke stadion. Semua berhak datang tanpa merasa terganggu oleh asap dan pemandangan yang tidak enak,” tegas Ferry Indrasjarief.

Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau juga mendorong PSSI untuk mengadopsi kebijakan FIFA yaitu Tobacco Free Policy for FIFA Events.

“Perlu diperjuangkan agar menjadi regulasi di PSSI karena isu ini sudah meluas dan banyak yang mendukung. Saya kepikiran suatu waktu akan bikin video bareng pemain Persija untuk mengampanyekan Gerakan Tribun Tanpa Asap dan menyampaikannya ke PSSI dan masyarakat luas,” tambah Ferry Indrasjarief.

“FIFA saja sudah tidak menerima bantuan sponsor dari industri rokok. Bagaimana dengan PSSI sendiri? Kita masih melihat ada bantuan sponsor rokok terselubung di dalam program Garuda Select. Kita juga masih bisa melihat bantuan sponsor rokok di beberapa klub sepak bola tanah air. Kami berharap PSSI segera mengadopsi kebijakan FIFA terkait Tobacco Free Policy,” pungkas Ifdhal Kasim.

Sumber: ANTARANEWS | INDOSPORT (1) | INDOSPORT (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *