Kenapa Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok Harus Dilarang? Alasan 2 : Rokok Tidak Halal

Sidang Pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III menyatakan bahwa merokok hukumnya “dilarang” antara haram dan makruh.

Sidang yang dipimpin oleh Ketua MUI KH Maruf Amin di Aula Perguruan Diniyyah Puteri, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Ahad sore (25 Januari 2009) juga memutuskan, merokok haram hukumnya di tempat umum, untuk ibu-ibu hamil, dan anak-anak.

 

Rokok Tidak Halal

 

“Seluruh peserta sidang sepakat bahwa rokok hukumnya tidak wajib, sunnah maupun mubah. Seluruh peserta sepakat bahwa rokok hukumnya dilarang. Sebagian ada yang menyatakan dilarang karena makruh, dan sebagian lagi menyatakan dilarang karena haram.” – Dr. Hasanuddin

“Umat tidak perlu bingung dengan fatwa MUI tersebut. Hukum merokok itu sendiri telah jelas, dilarang antara makruh dan haram, palu sudah diketok” – Prof. Dr. Amin Suma, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Sehubungan dengan adanya banyak madlarrat yang ditimbulkan dari aktifitas merokok, Sidang Pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III direkomendasikan hal-hal sebagai berikut:

(1.) DPR diminta segera membuat undang-undang larangan merokok di tempat umum, bagi anak-anak, dan bagi wanita hamil.

(2.) Pemerintah, baik pusat maupun daerah diminta membuat regulasi tentang larangan merokok di tempat umum, bagi anak-anak, dan bagi wanita hamil.

(3.) Pemerintah, baik pusat maupun daerah diminta menindak pelaku pelanggaran terhadap aturan larangan merokok di tempat umum, bagi anak-anak, dan bagi wanita hamil.

(4.) Pemerintah, baik pusat maupun daerah diminta melarang iklan rokok, baik langsung maupun tidak langsung.

(5.) Para ilmuwan diminta untuk melakukan penelitian tentang manfaat tembakau selain untuk rokok.

 

Dasar Penetapan Dilarangnya Merokok

(1.) Firman Allah “Nabi itu menyuruh mereka kepada yang makruf, melarang mereka dari yang munkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan melarang bagi mereka segala yang buruk.” [QS. al-A’raf: 157]

(2.) Firman Allah “Janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang berlaku boros itu adalah saudara saudara syaitan. Dan syaitan itu sangat ingkar terhadap Tuhannya.” [QS. al-Isra’: 26-27]

(3.) Hadits Nabi “Tidak boleh membuat mudlarat kepada diri sendiri dan tidak boleh membuat mudlarat kepada orang lain.”

(4.) Kaidah Fiqhiyyah “Bahaya harus ditolak semaksimal mungkin.”

(5.) Kaidah Fiqhiyyah “Yang menimbulkan mudlarat harus dihilangkan/dihindarkan.”

(6.) Kaidah Fiqhiyyah “Penetapan hukum itu tergantung ada atau tidak adanya ‘illat.”

(7.) Penjelasan delegasi Ulama Mesir, Yordania, Yaman, dan Syria bahwa hukum merokok di negara-negara tersebut adalah haram.

(8.) Penjelasan dari Komnas Perlindungan Anak, GAPPRI, Komnas Pengendalian Tembakau, Departemen Kesehatan terkait masalah rokok.

(9.) Hasil Rapat Koordinasi MUI tentang Masalah Merokok yang diselenggarakan pada 10 September 2008 di Jakarta, yang menyepakati bahwa merokok menimbulkan madlarrat di samping ada manfaatnya.

 

Sumber:
– Website Kementerian Agama Republik Indonesia
– E-Book “Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III Tahun 2009”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *