Menelusuri Jejak R, Baby Smoker dari Sukabumi

Beberapa hari ini Indonesia atau bahkan dunia dihebohkan dengan berita yang menceritakan seorang anak berusia 2 tahun kecanduan rokok di Sukabumi. Kami menelusuri keberadaannya untuk memahami kabar seutuhnya. Ahad, 19 Agustus 2018 akhirnya kami menemukan alamat rumahnya di Pondok Anyak, Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

 

Menelusuri Jejak R, Baby Smoker dari Sukabumi x

 

Anak ini bernama R. Ia berusia genap 2 tahun pada 17 Oktober 2018 nanti. Ternyata anak ini bahkan belum sampai 2 tahun umurnya. Saat saya datang ia sedang bermain dengan ayahnya, Misbahudin (45) yang keseharianya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan 70 ribu rupiah per hari. Ibunya bernama Maryati (35), sehari-hari menjaga warung di rumah. R adalah anak ke 6 dari 6 bersaudara. Semua kakaknya perempuan. Di rumahnya pun yang merokok adalah bapaknya.

Berita ini tersebar saat ketika itu ia dibawa bapaknya ke Pasar. R nangis minta rokok, dilihat oleh penjual daging. Kebetulan, penjual daging itu mengatakan bahwa anaknya adalah wartawan. Sampai akhirnya sang bapak diwawancara pada hari senin 14 Agustus. Kedua orang tua R tidak menyangka jika beritanya akan heboh. Mereka langsung didatangi oleh Pak Camat dan Bupati Sukabumi pada 18 Agustus 2018.

Awal mula R merokok ialah saat ia memungut puntung-puntung rokok yang ada di halaman rumah. Puntung-puntung itu pun disedot dan akhirnya menjadi kecanduan. Hal ini berlangsung sejak 1,5 bulan yang lalu.

Di rumah, keluarganya juga berjualan rokok dan R sering memintanya. Jika tidak dikasih, ia bisa nangis sejadi-jadinya, bahkan sampai mengamuk. Anak ini belum bisa menyalakan sendiri rokoknya menggunakan korek api, orang tuanya yang menyalakan. Kalau pun orang tuanya tidak mau menyalakan korek, anak ini sudah bisa menyalakannya menggunakan kompor gas.

 

Menelusuri Jejak R, Baby Smoker dari Sukabumi 5

 

R biasa bermain dengan teman sebayanya. Mereka tidak ada yang mau ikut merokok, namun sering mengambilkan sisa-sisa puntung rokok untuk R. Tidak hanya rokok, setiap bangun tidur R juga suka meminta kopi moccacino. Menurut keterangan orang tuanya, 3 hari terakhir ini R sudah tidak dikasih rokok. Ia dipalingkan dengan mainan atau diajak jalan-jalan, sesuai saran dari Pak Camat dan pak Bupati yang ketika mereka datang juga memberikan banyak mainan untuk R.

Kami bertanya ke Bapaknya, “Pak anak ini tau gak kalo ada iklan rokok?” Bapaknya menjawab, “Tau banget pak. Kalo saya ajak ke Pasar Cibadak, dia lihat baliho rokok, dia nunjuk sambil bilang ‘rokok, rokokā€¦’ dia minta rokok. Dia biasanya merokok merek DS.” Ternyata, industri rokok sudah bisa ngerayu anak sekecil itu untuk merokok.

Selain dari paparan iklan, anak ini juga minta rokok jika melihat orang dewasa sedang merokok. Alhamdulillah Bapaknya sekarang sudah tidak mau lagi merokok. Bahkan jika ada tetangga yang merokok ke depan rumah, ia minta untuk menjauh suaya tidak terlihat oleh R.

Dari kejadian ini, kami menarik beberapa kesimpulan bahwa:
1 – Bukti nyata bahwa rokok mengandung zat adikit dan membuat kecanduan bagi yang menghisapnya
2 – Seperti ada pembiaran dari orang tua karena membantu anak tersebut menyalakan rokok tersebab kurangnya pemahaman bahwa rokok mengandung zat adiktif
3 – Iklan rokok dapat memengaruhi anak untuk merokok
4 – Harga rokok terlalu murah

 

Menelusuri Jejak R Baby Smoker Sukabumi

 

Pemerintah jangan diam saja melihat hal seperti ini. Harus melek dan peduli. Segera lakukan pencegahan dengan melakukan program-progran pengendalian tembakau di seluruh wilayah.

Maka, kami merekomendasikan:
1 – Pemerintah harus melakukan pengendalian dan pencegahan konsumsi rokok, terutama kepada anak-anak
2 – Pemerintah harus melakukan pembinaan, penyuluhan, penyebarluasan informasi tentang rokok dengan sebenar-benarnya, terkait kandungan dan pengaruhnya dari segi kesehatan, psikologi maupun ekonomi
3 – Larang total segala bentuk iklan, promosi dan sponsor rokok karena dapat memengaruhi anak-anak untuk merokok
4 – Wujudkan dan implementasikan Kawasan Tanpa Rokok
5 – Naikkan harga rokok minimal Rp70.000,00 per bungkus dan tidak boleh dijual per batang

Bambang Priyono, Ketua No Tobacco Community

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *