Kenapa Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok Harus Dilarang? Alasan 6 : Iklan Rokok Penuh Kebohongan

Terkait Iklan Rokok Penuh Kebohongan, hal tersebut pernah ditegaskan oleh Ibu Ani Yudhoyono di hadapan para pelajar dari berbagai sekolah di Indonesia dalam memperingati hari tanpa tembakau se-dunia di Istana Negara, Jalan Veteran Raya, Jakarta, Jumat (30/5/2008)

“Ibu berharap kalian tidak terpengaruh dan tergoda merokok. Sebab orang merokok adalah gaya hidup modern, macho, mudah insiprasi, hanya bohong belaka, jangan mudah tergoda bujuk rayu seperti itu,” tegas Ibu Ani.

 

Iklan Rokok Penuh Kebohongan

 

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi juga mengatakan iklan rokok merupakan iklan yang paling manipulatif dengan membalikan fakta 180 derajat dibanding produk lainnya. “Iklan rokok adalah iklan yang paling manipulatif dibanding yang lain, bisa dibilang yang paling ‘ngapusi’ (bohong),” kata Tulus Abadi di Jakarta.

Tulus menjabarkan iklan rokok menyajikan gambaran yang tidak sesuai fakta di mana gambaran seseorang dalam iklan tersebut terkesan positif padahal kenyataannya sebaliknya. Dia menjelaskan iklan rokok saat ini tidak bertujuan mengenalkan merek produk namun berupaya mengubah paradigma masyarakat bahwa rokok bukanlah barang komoditas yang tidak normal. Iklan rokok, lanjut dia, berusaha menggambarkan hal positif untuk menjaring konsumen atau perokok baru, yang di mana sasarannya ialah remaja.

U.S. District Court for the District of Columbia juga menemukan bahwa industri tembakau besar telah “berbohong, misinterpretasi, dan menipu rakyat Amerika” berkaitan dengan efek terhadap kesehatan yang disebabkan oleh merokok dan dengan sengaja mendesain rokok sebagai produk adiktif dan menargetkannya kepada anak muda. Maka dari itu, mereka (industri) pun dikenakan hukuman untuk “memberikan klarifikasi kepada publik mengenai efek penggunaan tembakau” dalam iklan satu halaman penuh di koran dan juga menyiarkannya dalam iklan televisi.

Industri saja sudah ketahuan dan harus mengakui kebohongan mereka, apakah kita masih ingin dibohongi oleh mereka? Tentu saja tidak, kan?

 

Sumber:
Okezone News
REPUBLIKA.CO.ID
Newsweek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *