Kenapa Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok Harus Dilarang? Alasan 4 : Iklan Rokok Menargetkan Anak Muda dan Remaja

Pada tahun 2015, Yayasan Pengembangan Media Anak, Smoke Free Agent, dan Yayasan Lentera Anak melaporkan bahwa dari hasil pemantauan, 85% sekolah terpapar iklan rokok. Pemantauan itu dilakukan di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Padang, Makassar, dan Mataram. Padahal, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Nomor 64 Tahun 2015) telah mengatur sekolah sebagai kawasan tanpa rokok.

 

Iklan Rokok Menargetkan Anak Muda dan Remaja

 

Pada Workshop Nasional KLA 2018 yang difasilitasi oleh Yayasan Lentera Anak, disampaikan pula hasil monitoring iklan, promosi dan sponsor rokok yang dilakukan 170 anak yang menjadi anggota Forum Anak di 10 kota/kabupaten pada periode Mei-Juni 2017. Anak-anak menemukan 2.868 iklan, promosi dan sponsor rokok selama mereka berkegiatan di luar dan di ruang publik.

Mereka juga menemukan bahwa spanduk menjadi media yang paling banyak digunakan untuk melakukan iklan, promosi dan sponsor rokok, karena lebih murah, jangkauan pemasangan lebih luas, tidak dikenai pajak reklame, dan penempatannya lebih dekat kepada target. Ditemukan pula bahwa industri rokok sering mensponsori kegiatan musik (75,7%), dan sangat sering (80,2%) mempromosikan dengan mencantumkan harga rokok perbungkus dan perbatang.

Mengapa anak muda menjadi target industri rokok? Laporan Peneliti Myron E. Johnson ke Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Phillip Morris pada 1981 mengakui, “Remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap hari esok, karena mayoritas perokok memulai merokok ketika remaja..”

Sudah jelas bahwa industri rokok berbohong saat mengatakan bahwa mereka tidak menargetkan anak muda dan remaja. Mari kita dukung pelarangan total Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Indonesia!

 

Sumber:
Yayasan Lentera Anak
TEMPO.CO
REPUBLIKA.CO.ID
Komisi Nasional Pengendalian Tembakau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *