Live Tweet The 5th ICTOH 2018 Diskusi Panel Hari Kedua

Kami hadir dalam The 5th Indonesian Conference on Tobacco or Health (ICTOH) 2018. Kami melakukan live tweet pada semua sesi Diskusi Panel yang kami ikuti. Berikut ini adalah saduran live tweet dari @NoTC_ID pada Diskusi Panel hari kedua The 5th ICTOH 2018.

 

Live Tweet The 5th ICTOH 2018 Diskusi Panel Hari Kedua

 

Pagi ini, membuka sesi Diskusi Panel #ICTOH2018, Dr. Kecuk Suhariyanto selaku Kepala Badan Pusat Statistik akan memaparkan “Dampak Rokok terhadap Kemiskinan”

“Pada September 2017, share rokok terhadap garis kemiskinan desa lebih tinggi dibandingkan garis kemiskinan kota.”

“19,63 persen penduduk miskin adalah perokok (Maret, 2017)”

“Ketika pengaruh kenaikan harga rokok terhadap permintaan rokok kecil, maka mengakibatkan konsumsi terus meningkat. Hal ini memperburuk perekonomian penduduk miskin. Kesehatan pun memburuk sehingga biaya kesehatan naik.”

= = = = =

dr. Heni Riswanti, dari BPJS Kesehatan memaparkan “Beban Pembiayaan Penyakit Akibat Merokok terhadap Jaminan Kesehatan Nasional”

“Data dari BPJS, ada 4 penyakit akibat merokok: Gagal ginjal, jantung, stroke dan kanker.”

“Di 2014, 4 penyakit katastropik ini menelan biaya sebesar 8,5 T. 2015 naik jadi 13T, kemudian 2016 naik jadi 15T, dan 2017 menjadi 17T.”

“25% pembiayaan BPJS/JKN habis untuk penyakit akibat rokok. Dibutuhkan sinergi dan dukungan seluruh stakeholder dalam mendorong gaya hidup sehat bagi seluruh masyarakat dan mewujudkan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat.”

= = = = =

“Prinsip cukai bukanlah penerimaan, tapi pengendalian.” – Badan Kebijakan Fiskal

“Klaim yang menyatakan bahwa rokok elektrik (vape) bukan dari hasil tembakau adalah salah. Kami menemukan bahwa 90% kandungannya tetap merupakan hasil sintesa tembakau. Maka ini harus kena cukai.”

= = = = =

Prof. Hasbullah Thabrany menyampaikan “Naikkan Cukai, Turunkan Prevalensi Perokok. Perjuangan Politik.”

“Indonesia belum aksesi FCTC. Maka Indonesia menjadi target industri rokok multinasional.”

“Harga rokok murah jadi andalan indsutri memabukkan rakyat dan ulama.”

“Cukai rokok saat ini masih belum efektif. Terlalu kecil. Karenanya, harga rokok masih terlalu murah untuk pendapatan yang terus naik.”

= = = = =

dr. Rizkiyana Sukandhi Putra, M.Kes membahas “Upaya Rotasi dan Peningkatan Ukurang Peringatan Kesehatan Bergambar Kemasan Rokok”

“Menteri Kesehatan telah menerbitkan Permenkes Nomor 56 Tahun 2017”

“Sesuai dengan peneliian di beberapa negara, peringatan PHW yang lebih besar lebih efektif. Indonesia saat ini 40%, harus jadi minimal 75%.”

= = = = =

TCSC IAKMI memaparkan “Opini Publik tentang Efektivitas dan Dukungan untuk Meningkatkan Ukuran Peringatan Kesehatan Bergambar pada Kemasan Rokok di Indonesia.”

“Survey yang dilakukan oleh TCSC pada 2015 menemukan bahwa sekitar 78,8% masyarakat Indonesia mendukung pemerintah untuk meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar.”

= = = = =

“Best Practices: Pictorial Health Warning” with Mr. Tara Singh Bam from The Union

“Pictorial Health Warnings are effective to: educate people on danger of tobacco use, motivate smokers/tobacco users to quit, convince youth not to start smoking/tobacco use, re-convince ex-tobacco users to remain quitter”

“Indonesia needs larger Pictorial Health Warning. Larger pictorial health warning are effective. PHW made smokers to redyce cigarettes smoked/day”

“PHW is the most cost effective strategy – No cost to government, easy to implement and monitor Government commitments”

= = = = =

“Tren prevalensi perokok dunia menunjukkan penurunan. Hanya 5 negara yang naik.” – Dina Kania, WHO Representative Indonesia

“Laporan WHO: 78 negara di dunia telah menetapkan peringatan kesehatan bergambar dengan standar tertinggi sesuai dengan FCTC”

Indonesia sebenarnya punya target meningkatkan PHW dari 40% ke 75% dan menuju Kemasan Polos.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *