Dinkes Bogor Aktifkan Komunitas Warga Tanpa Rokok

Bogor, (Antara Megapolitan) – Dinas Kesehatan Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat segera mengaktifkan kembali komunitas warga tanpa rokok sebagai salah satu upaya mengawasi dan mencegah perilaku merokok di kalangan pelajar atau generasi muda.

“Komunitas warga tanpa rokok merupakan ujung tombak pengawasan peraturan daerah kawasan tanpa rokok di lingkungan masyarakat, guna mencegah jumlah anak perokok,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Rubaeah, di Bogor, Kamis.

Dikatakannya komunitas warga tanpa rokok pernah terbentuk saat Peraturan Daerah Nomo 12 Tahun 2009 diterapkan, namun seiring berjalannya waktu komunitas tersebut meredup karena berbagai alasan diantaranya membutuhkan pendampingan secara terus menerus.

“Kita ingin menghidupkan kembali komunitas warga tanpa rokok yang mandiri, yang bisa terus bergerak menjadi Satgas KTR di lingkungan masyarakat,” katanya.

 

Kawasan Tanpa Rokok

 

Menurutnya angka pelajar Kota Bogor yang merokok cukup mengkhawatirkan, dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan 2014 lalu, sekitar 20 persen pelajar SMA atau setingkat SLTA di kota tersebut telah terpapar rokok.

“Kita melakukan survei mengenai prilaku merokok di kalangan pelajar, dengan melibatkan 11.000 siswa SMU di Kota Bogor, dari jumlah tersebut sebanyak 2.000 anak atau sekitar 20 persennya diketahui merokok,” katanya.

Diungkapkannya, fakta lain yang ditemukan dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bogor, dari 2.000 pelajar yang merokok tersebut 90 persen memiliki kondisi tubuh yang tidak bugar akibat rokok, sedangkan 600 anak lainnya beresiko terkena penyakit tidak menular seperti jantung, paru-paru, dan penyakit berbahaya lainnya.

“Dari 2.000 anak yang terpapar rokok, 600 anak beresiko penyakit tidak menular, dan 90 persen dari mereka kondisi tubuhnya tidak bugar karena rokok,” katanya.

Ia menjelaskan survei dilakukan dengan menyebar kuisioner ke 11.000 pelajar SMU yang ada di 23 sekolah di Kota Bogor yang berisi pertanyaan seputar rokok dan bahaya merokok bagi kesehatan.

Dari hasil survei tersebut diketahui 2.000 anak mengaku telah merokok atau menjadi perokok aktif.

“Mereka ada yang sudah merokok dari usia empat tahun,” kata Rubaeah.

Dalam kuisioner tersebut juga diketahui pelajar tersebut biasa merokok di luar rumah, dan luar sekolah. Beberapa menyatakan mengenal rokok dari teman dan ada juga yang merokok karena orang tuanya juga merokok di rumah.

“Hampir semua pelajar sudah mencoba semua jenis rokok mulai dari filter, kretek, ceruti, sampai linting,” katanya.

Menurut Rubaeah, umumnya pelajar mengenal rokok dari pergaulan di sekolah dan lingkungan sekitar rumah, dan hampir semua pelajar yang merokok mengetahui bahaya merokok bagi kesehatan.

“Tetapi karena pergaulan dan mereka tidak mempedulikan bahayanya,” katanya.

Dari hasil survei juga diketahui sebagian besar pelajar mengenal rokok selain di lingkungan rumah, juga di lingkungan sekolah yakni melalui teman-teman dan juga menyaksikan orang tua atau guru yang merokok.

“Tapi pelajar ini tidak akan merokok di dalam sekolah maupun dalam rumah. Mereka akan memilih merokok di luar sekolah dan rumah yakni di lingkungan,” katanya.

Rubaeah menambahkan, dengan adanya komunitas warga tanpa rokok dapat berperan mengawasi para remaja atau pelajar yang merokok di lingkungan sekitar rumah dan sekolah, agar dapat ditegur dan diberikan peringatan akan bahaya yang disebabkan oleh rokok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *